Minimnya Tenaga Konstruksi Bersertifikat Menyebabkan Beberapa Hal Ini

Minimnya Tenaga Konstruksi Bersertifikat Menyebabkan Beberapa Hal Ini

 

Tenaga konstruksi di Indonesia memang cukup banyak, namun sayangnya sedikit yang bersertifikat. Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan, apalagi mengingat biaya sertifikasi yang sebenarnya cukup terjangkau.

Di sisi lain kehadiran banyak tenaga konstruksi yang tidak bersertifikat ini juga memiliki dampak yang cukup signifikan. Tidak hanya bagi iklim tenaga kerja di Indonesia tapi juga kepada tenaga kerja konstruksi itu sendiri. Seperti halnya beberapa yang akan dibahas di bawah.

Dampak Kurangnya Tenaga Konstruksi yang Bersertifikat

Kekurangan tenaga konstruksi yang bersertifikat menimbulkan berbagai dampak untuk ke depannya. Beberapa di antara lain dampak yang hadir adalah sebagai berikut ini.

1.Kurangnya Daya Saing

Saat ini tenaga konstruksi yang bersertifikat lebih diakui bahkan oleh dunia internasional. Ketika banyak tenaga konstruksi yang tidak bersertifikat otomatis ini akan membuat tenaga-tenaga konstruksi kita kalah di persaingan global.

Apalagi ada banyak perusahaan (utamanya di luar negeri) yang mensyaratkan tenaga ahli yang bersertifikat. Hal ini seharusnya menjadi pemacu bagi para tenaga konstruksi ini untuk membuat kemampuannya diakui dengan melakukan sertifikasi sesuai keahlian yang dimiliki.

2.Upah Minim

Di sisi lain, ketiadaan sertifikat sebenarnya berdampak besar bagi tenaga kerja itu sendiri. Tenaga kerja yang tidak bersertifikat cenderung digaji dengan upah yang jauh lebih kecil jika dibanding tenaga kerja bersertifikat. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian bagi para tenaga kerja tersebut.

Jangan sampai nantinya kesejahteraan mereka justru tergadaikan dengan ketiadaan sertifikat. Pasalnya baik di dalam dan luar negeri, tenaga kontruksi dengan sertifikat memiliki jaminan upah yang lebih baik.

3.Kemampuan Tidak Diakui

Biasanya setiap tenaga konstruksi memiliki keahlian masing-masing. Ada juga yang mampu menguasai banyak bidang konstruksi. Seperti halnya ada yang memiliki kemampuan terkait pondasi dan berhubungan dengan besi ulir atau beton, dari memahami harga bar cutter dan bar bender sampai dengan mengerti pola pondasi yang baik sesuai dengan kondisi bangunan.

Akan tetapi, ketika tidak memiliki sertifikasi mumpuni maka kemampuan tersebut tidak diakui. Oleh karena itu, mereka nantinya tidak dapat dikategorikan tenaga ahli di bidang tersebut. Padahal seperti yang kita ketahui, peluang kerja tenaga ahli lebih tinggi dengan upah yang lebih besar jika dibanding tenaga tanpa kemampuan yang diakui.

Ada banyak masalah lainnya yang sebenarnya menjadi dampak dari kurangnya tenaga dengan sertifikat di Indonesia. Hal ini menjadi PR bagi semua pihak untuk meningkatkan jumlah tenaga ahli dengan sertifikat di Indonesia.

Tentu akan sayang bukan, jika ada tenaga konstruksi seperti yang disebutkan di atas dapat memahami seluk beluk dunia pondasi misalkan dari paham harga bar cutter dan bar bender untuk pondasi sampai dengan mampu menganalisa model struktur pondasi yang baik tapi kemampuannya tidak diakui. Padahal peluang besar terbuka ketika tenaga konstruksi di Indonesia semakin banyak yang bersertifikat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*